Baznas Babel Berharap Banyak Pada Mensos

PANGKALPINANG –  Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sofyan Tsauri berharap kedatangan menteri sosial (Mensos) Hj. Khofifah Indar Parawansa benar-benar mampu mendorong kesadaran semua pihak untuk meningkatkan kualitas SDM di Babel. Dan salah satu caranya jangan sampai ada lagi anak-anak yang putus sekolah.

Apa lagi mensos sudah mencanangkan bahwa jangan sampai ada lagi anak-anak yang putus sekolah-sejalan dengan program Baznas Indonesia Pintar. Karena memang tidak seharusnya ada lagi anak-anak Indonesia yang tidak bersekolah. Makanya sekali ini konsep Baznas ini pararel dengan yang di canangkan oleh Kemensos. Namun dalam hal ini tentu membutuhkan dana yang juga memadai.

Persoalan kesiapan dana ini  juga jadi kendala selama ini, terutama karena lemahnya kesadaran para wajib zakat dalam menunaikan kewajibannya membayar zakat. Makanya diharapkan penghimpunan dana zakat bisa meningkat, agar supaya rencana-rencana untuk pembangunan anak bangsa dan negara bisa terwujud secara maksimal sebagaimana yang diharapkan, khususnya juga untuk Babel.

“Kita memberikan santunan pendidikan kepada anak-anak kurang mampu, keluarga miskin dan berprestasi melalui Baznas Indonesia. Yakni, membantu anak-anak yang kurang mampu dan ini diharapkan meningkat pun semakin tahun dapat makin meningkat. Dan sekali lagi hal ini akan terwujud jika kesadaran membayar zakat juga meningkat,“ dorong Sofyan.

Sofyan berharap, pencanangan program yang dilakukan Kemensos agar jangan sampai ada lagi anak-anak Indonesia termasuk di Babel, sehingga tidak ada lagi yang tidak mendapatkan akses untuk bersekolah.

“Ini adalah program yang bagus. Karena Baznas pun fokus untuk itu agar anak-anak yang putus sekolah juga bisa sekolah kembali. Makanya kepada semua pihak terkait, termasuk Kemensos, seharusnya kalau ada gagasan itu, ya harusnya segera di realisasi jangan di tunda-tunda lagi. Bahkan kalau mungkin, ibu mensos bisa bawa menteri bawa duit langsung dan menyasar langsung kepada masyarakat secara tepat sasaran guna menemukan anak-anak yang memang tidak sekolah tersebut. Intinya jangan omong saja tapi harus ada action,“ harap Sofyan lagi.

Sofyan menilai bahwa sebenarnya anak-anak yang putus sekolah di Babel tidak lah sebesar di daerah lainnya. Hanya saja memang di beberapa daerah masih ada yang lebih memilih berkebun bersama orang tuanya atau keluarganya, daripada sekolah.

“Oleh karena itu saya juga minta kepada para Da`i agar tidak hanya membahas topik pembicaraan dari segi hukum fiqih saja, tapi juga bagaimana mencari duitnya untuk mengembangkan penghidupan khususnya bagi para generasi bangsa ini. Seorang pendakwah harus mampu membina di semua lini kehidupan termasuk membina keluarganya. Sebagai kewajibanya menyembah Alloh dengan lewat amalnya. Karena memang tujuan hidup ini hanya untuk mengabdi sama Allah. Dan sebagaimana sabda Rosullah SAW, bahkan ada satu dosa yang tidak bisa dihapuskan oleh sholat, zakat, Puasa dan haji. Melainkan harus dengan mengerjakan amal soleh dalam kehidupan melalui keluarganya serta mencari penghidupan dengan jalan yang baik dan benar.

“Harapan saya berbagai pihak terkait termasuk para dewan di Basel  termasuk Basel untuk menyampaikan langsung kepada menteri sosial terkait potret pendidikan dan sosial yang terjadi di daerahnya.

Termasuk kondisi masyarakat Dusun Pekalan Batu Desa Ranggung Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan. Yang hampir 98 persen warganya khususnya anak-anak tidak mendapatkan pendidikan secara layak dan memadai, bahkan tidak pernah sekolah. Saya ingin supaya ini disampaikan kepada mensos, sehingga beliau yang juga seorang pendakwah, memiliki semangat tinggi terhadap kualitas akhlak dan moral anak bangsa. Sebagai seorang pemimpin, Mensos juga wajib memberikan perhatian kepada seluruh masyarakatnya termasuk di Babel. (lya)

Sumber : Babelpos

×

Assalamualaikum,

Tinggalkan pesan anda.

× Assalamualaikum