Bencana Asap dan Kemarau Panjang, Ya Allah, Ampunilah kami!

Dalam penerbangan Garuda Indonesia dari Lombok menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, di atas pesawat saya baca surat kabar terbitan 27 Oktober 2015 mengangkat bencana asap menjadi berita utama. “Bara Api Kepung Lahan Nusantara”, demikian judul berita Kompas. Diungkapkan, kebakaran terus meluas di lahan, hutan dan gunung-gunung di Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua, menyusul sebagian Sumatera dan Kalimantan, yang menimbulkan kabut asap tiga bulan terakhir.

Bencana kabut asap dalam musim kemarau panjang ini telah berlangsung beberapa bulan. Kemungkinan masih akan berlanjut beberapa waktu ke depan. Sulit dibantah bencana akibat pembakaran hutan dan lahan gambut untuk perkebunan sawit merupakan bencana buatan manusia. Sebuah ayat dalam Al Quran menyatakan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, karena ulah tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (balasan) perbuatan yang mereka perbuat, mudah-mudahan mereka kembali (taubat).” (QS ArRuum [30]: 41).

Bencana kabut asap adalah akibat kesalahan manusia dan tindakan tidak bertanggungjawab oknum perusahaan perkebunan sawit yang diberi izin oleh pemerintah untuk menguasai hutan dan lahan puluhan ribu sampai ratusan ribu hektar. Pemilik modal seolah terasing dari kehidupan rakyat banyak sehingga tidak ada rasa tanggungjawab terhadap kelestarian lingkungan.

Kebakaran hutan dan kabut asap tahun ini barangkali yang terburuk sepanjang sejarah Republik Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan yang kian meluas, selain merusak kesehatan manusia dan menimbulkan kerugian sosial ekonomi yang tak terbilang, juga merusak keseimbangan ekosistem, memusnahkan keanekaragaman hayati serta meningkatkan efek pemanasan global.

Pemerintah sudah berupaya memadamkan titik api dan menindak pihak yang terlibat dalam pembakaran hutan dan lahan. Masyarakat menunggu transparansi dan keadilan penegakan hukum atas perbuatan yang telah membuat jutaan manusia menderita. Kewajiban negara tidak hanya melindungi kepentingan pemilik modal dan pengusaha. Negara dan kepentingan rakyat banyak tidak boleh takluk oleh power of money (kekuatan uang) kalau kita konsekuen melaksanakan Pancasila dan sebagai bangsa yang beragama.

Dalam beberapa dekade terakhir kekayaan alam kita menyusut dengan cepat dan mengalami kerusakan. Di sisi lain kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan sosial antar-golongan menjadi persoalan berat bangsa ini. Sistem ekonomi Liberal dan Kapitalisme yang mulai berkembang pada struktur ekonomi nasional harus direstorasi untuk menyelamatkan masa depan Indonesia. Ekonomi Liberal dan Kapitalisme nyata-nyata bertentangan dengan Pancasila dan mengkhianati tujuan bernegara.

Dampak serius yang menjadi kekhawatiran banyak kalangan dari bencana kabut asap di sebagian wilayah nusantara adalah kemungkinan hilangnya satu generasi karena penyakit saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit lainnya. Kabut asap berdampak terhadap kualitas udara dan oksigen yang dihirup anak-anak. Hal itu menjadi ancaman bahaya bagi generasi potensial Indonesia yang sebagian besar adalah penduduk pribumi. Para ahli kesehatan mengatakan saraf-saraf pertumbuhan otak anak-anak bisa terganggu akibat asap.

Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan telah menyebabkan 10 orang meninggal dunia di Sumatera dan Kalimantan. Menurut BNPB, bencana asap telah menyebabkan 503.874 jiwa menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 6 provinsi sejak 1 Juli – 23 Oktober 2015, yaitu; 80.263 di Riau, 129.229 di Jambi, 101.333 di Sumatera Selatan, 43.477 di Kalimantan Barat, 52.142 di Kalimantan Tengah, dan 97.430 di Kalimantan Selatan. Jumlah penderita ISPA kemungkinan lebih dari itu karena sebagian masyarakat tidak berobat ke Puskesmas atau rumah sakit. Secara keseluruhan lebih dari 43 juta jiwa penduduk terpapar oleh asap. Data ini hanya dihitung untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Megawati Soekarnoputri baru-baru ini mempertanyakan sikap rakyat dalam menghadapi bencana asap. Mantan Presiden RI itu melihat selama ini rakyat hanya menyalahkan pemerintah, bukannya turut membantu menyelesaikan masalah yang telah dua bulan melanda Indonesia. ‘’Yang ribut kenapa pemerintah saja. Kemana rakyatku, dulu ada gotong royong. Itulah budaya bangsa Indonesia,’’ ujar Megawati. Menurutnya, di satu sisi pemerintah bertempur di atas, sementara rakyat di bawah tidak tahu apa yang terjadi.

Hemat saya, bencana kebakaran hutan dan lahan gambut bukan semata-mata karena rakyat sudah tidak cinta pada alam. Tapi yang berat penanganannya ialah pembakaran yang dilakukan korporasi sebagai jalan pintas dan murah untuk membuka lahan baru. Kalau yang disalahkan adalah pembakaran hutan dan lahan oleh rakyat pedesaan atau peladang, sejak puluhan tahun lalu rakyat punya tradisi dan caranya sendiri dalam mensiasati alam hingga tidak berakibat fatal seperti sekarang ini.

Dalam kondisi di atas rakyat tidak punya bargaining politik untuk bertempur dengan pemilik modal dan pemegang HPH (Hak Penguasaan Hutan). Mereka hanya bisa pasrah dan tabah menangggung derita. Kebakaran hutan dan lahan gambut diperparah karena adanya dampak El Nino. Seperti diketahui El Nino merupakan fenomena alam berkaitan dengan kenaikan suhu permukaan air laut melebihi rata-rata di Samudera Pasifik sekitar Ekuator Amerika Selatan.

Menyikapi bencana kabut asap, kemarau panjang dan kekeringan, sejumlah elemen masyarakat telah berbuat. Saya mencatat upaya yang dilakukan oleh lembaga zakat, seperti Dompet Dhuafa, ACT (Aksi Cepat Tanggap) atau BAZNAS di daerah, yaitu pembagian masker, layanan, kesehatan gratis, homeschooling terhadap murid sekolah yang diliburkan karena bencana, bantuan air bersih dan sebagainya, sangat berarti bagi warga masyarakat yang membutuhkan.

Bencana kabut asap dan kemarau panjang telah membangkitkan solidaritas anak bangsa dalam aksi kepedulian. Seiring dengan upaya secara lahiriyah, saya memandang upaya ruhaniyah perlu dilakukan, yaitu taqarrub ilallah, mendekatkan diri dan memohon taubat kepada Allah Pemilik Alam Semesta.

Gerakan melaksanakan shalat istisqa atau dikenal sebagai shalat minta hujan bersama-sama di lapangan terbuka sesuai Sunnah Nabi perlu digalakkan oleh umat Islam di tanah air saat ini. Shalat Istisqa sesuai syarat dan sunnahnya harus diawali dengan bertaubat atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Shalat Istisqa sebaiknya diawali dengan menjalankan puasa tiga hari, bersedekah dan menghadirkan orang-orang miskin serta anak yatim. Semoga rahmat dan pertolongan Allah SWT diturunkan kepada kita bangsa Indonesia, sehingga terbebas dari bencana kabut asap dan kemarau panjang.

Oleh M. Fuad Nasar, Konsultan The Fatwa Center Jakarta, Komunitas BAZNAS

Sumber : Media Indonesia, Senin 02 November 2015

×

Assalamualaikum,

Tinggalkan pesan anda.

× Assalamualaikum