Cahaya Ramadhan, Cahaya Keshalehan Sosial

puasaSeorang sahabat, alumni Filsafat UGM (Saudara Anggun Gunawan) mengemukakan, persoalan umat Islam saat ini bukan soal memassifkan kampanye “Islam rahmatan lil ‘alamin.” Secara normatif Islam sudah memberikan rahmat kepada seluruh manusia dan alam semesta, tetapi yang penting sekarang adalah kampanye “Muslim rahmatan lil ‘alamin.” karena yang penting itu adalah orangnya.

Ungkapan di atas meski sederhana, tapi menarik dan penting menjadi bahan renungan. Tidak dapat dipungkiri, masih banyak umat Islam yang belum mampu menebarkan rahmat bagi sesama muslim, apalagi menjadi rahmat bagi alam semesta. Padahal kita tahu Rasulullah SAW lima belas abad yang lampau meninggalkan umat Islam dalam predikat ideal, yaitu sebagai khaira ummah (umat terbaik) dan ummatan washata (umat pertengahan, umat yang moderat) yang menjadi saksi atas sekalian manusia (syuhada ‘alan naas).

Sebagian umat Islam yang tidak menangkap esensi Islam sebagai pandangan hidup universal lantas mengartikan ibadah dengan membatasinya pada ibadah-ibadah ritual semata. Islam justru mengajarkan bahwa mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah) tidak cukup hanya dengan ibadah ritual, tapi juga lewat kontribusi diri yang diberikan kepada masyarakat dan kemashalatan umat manusia. Seorang muslim belum dipandang shaleh kalau hanya sibuk dengan ibadah mahdhah (ibadah ritual), tetapi bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan orang lain.

Salah satu pesan penting Al Quran menegaskan bahwa tindakan membela dan menolong kaum yang lemah (mustadh’afin) merupakan tanda-tanda ketakwaan yang otentik. Dalam Hadis Rasulullah SAW dinyatakan, “Barangsiapa di waktu pagi berniat untuk membela orangyang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang muslim, baginya ganjaran seperti ganjaranhaji yang mabrur. Hamba yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat buat manusia lainnya. Seutama – utama amal ialah memasukkan rasa bahagia pada hati orang beriman, melepaskan lapar, membebaskan kesulitan dan membayarkan utangnya.” (HR Ath Thabrani)

Ibadah yang bersifat massif dan dilakukan dalam kebersamaan, seperti shalat berjamaah di masjid, puasa dan haji, mengandung pesan kepada seluruh umat Islam agar senantiasa membangun ukhuwah islamiyah, memperkuat persatuan dan kepedulian sosial. Islam bukan hanya mengatur hubungan manusia secara personal dengan Tuhan, tetapi Islam adalah agama kemanusiaan. Seluruh aktivitas manusia sebagai individu dan makhluk sosial tidak bisa dilepaskan dari agama.

Sebentar lagi umat Islam diseluruh dunia akan memasuki bulan suci Ramadhan tahun 1436 H/2015. Setiap muslim, kecuali yang berhalangan secara syar’i, diwajibkan puasa (shaum) dengan tujuan mencapai derajat takwa, yakni tingkatan spiritual yang paling tinggi (QS Al Baqarah [2]: 183).

Selain menunaikan puasa sebagai rukun Islam, di dalam bulan yang penuh berkah dan kemuliaan itu, secara umum umat Islam berada dalam program tarbiyah diniyyah (pendidikan keagamaan) untuk menjadi muslim yang baik. Umat Islam membentuk akhlak pribadi dan akhlak sosial melalui ibadah puasa yang berintikan pengendalian diri dan menahan hawa nafsu. Umat Islam dididik menjadi insan yang pemurah dan dermawan di bulan Ramadhan. Umat Islam dilatih menjadi pribadi yang jujur kepada Allah dan jujur kepada sesama manusia di bulan Ramadhan. Puasa yang fardhu dan ibadah sunnah yang mengiringinya merupakan manifestasi iman dan cinta Ilahi pada diri setiap muslim yang beriman.

Ramadhan mendekatkan umat Islam dengan Al Quran melalui kegiatan tadarus, mendekatkan umat Islam dengan masjid dan jamaah melalui shalat tarawih dan iktikaf, dan mendekatkan umat Islam dengan saudara-saudaranya yang bernasib kurang beruntung secara ekonomi (fakir miskin) melalui pemberian zakat fitrah menandai berakhirnya puasa Ramadhan.

Menarik disimak ulasan mengenai zakat yang tercantum dalam buku “Ar Risalatul Chalidah” karya monumental Abdurrahman “Azzam Pasha (alih bahasa Abdullah Aidid) sebagai berikut: jiwa Islam dalam mewajibkan zakat adalah tegas bahwa dengan semata – mata memenuhi zakat itu, harta benda orang-orang Islam belum terlepas dari hak-hak orang yang berhajat kepadanya. Selama masih ada lowongan untuk berbuat kebaikan dan bersedekah, maka berbuat baik dan bersedekah itu adalah wajib dilaksanakan. Maka hak seorang Islam terhadap seorang Islam lainnya tidaklah habis hanya dengan pembayaran zakat saja.

Semua ibadah dan amal yang dilakukan di bulan Ramadhan mempunyai hikmah dalam upaya membentuk pribadi muslim seutuhnya. Puasa digambarkan oleh seorang tokoh ulama Indonesia allahu yarham H.S.M. Nasaruddin Latif sebagai “mata air segala kebaikan”. Ibadah puasa Ramadhan menempa seorang muslim dengan keshalehan ritual dan keshalehan sosial, sehingga kehadirannya di manapun menjadi rahmat sesama muslim dan umat manusia.

Nabi Yusuf alaihi salam yang bertahun-tahun mengendalikan pemerintahan Mesir sebagai Perdana Menteri, selama hidupnya melakukan puasa berselang-seling hari, sehingga praktis dalam separuh hidupnya berpuasa. Salah seorang menterinya bertanya, kenapa Perdana Menteri rajin melakukan puasa? Jawab Nabi Yusuf, “Agar tidak melupakan nasib orang-orang yang lapar!” (K.H. Saifuddin Zuhri, Secercah Da’wah, 1983)

Selamat menyambut Ramadhan dan menunaikan ibadah puasa kepada seluruh umat Islam di Tanah Air.

Mari hormati bulan suci Ramadhan. Bagi yang karena satu dan lain hal tidak berpuasa atau memang tidak menjalankan puasa diharapkan toleransinya untuk menghormati kaum muslimin yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Semoga ibadah puasa yang akan kita laksanakan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan menumbuhkan keshalehan sosial sebagai perilaku religious.

Wallahu a’lam

Oleh M. Fuad Nasar
Wakil Sekretaris BAZNAS

Sumber : pusat.baznas.go.id

×

Assalamualaikum,

Tinggalkan pesan anda.

× Assalamualaikum