Konsistensi Ibadah dan Muamalah Pasca Ramadhan

konsistensi-ibadahKita bersyukur kepada Allah SWT atas ibadah shaum (puasa) Ramadhan tahun 1435 Hijriyah yang baru saja kita selesaikan. Dalam sepekan kemarin, suasana silaturrahim pasca Idul Fitri masih dijumpai dan terlihat dimana-mana, baik di lingkungan perkantoran dalam bentuk acara halal bihalal maupun di lingkungan masyarakat yang lebih luas. Tentu saja nilai-nilai ibadah Ramadhan diharapkan membekas dalam kehidupan sebagai pribadi, sebagai bagian dari umat, dan selaku warga negara.

Selesai menjalani ibadah Ramadhan kita semua diharapkan dapat melestarikan nilai-nilai shaum sehingga mewarnai sikap dan perilaku, terutama konsistensi dalam beribadah, baik ibadah mahdhah yang diwajibkan atau disunnahkan dalam syariah maupun ibadah sosial yang mencakup berbagai dimensi kehidupan yang kita hadapi atau perankan di tengah masyarakat.

Ibadah shaum Ramadhan pada dasarnya adalah suatu proses pendidikan (tarbiyah dari Allah) yang mengandung nilai-nilai kemuliaan hidup yang disebut taqwa. Taqwa merupakan indikator utama kemuliaan, kebahagiaan dan sekaligus kesejahteraan bagi seorang muslim. Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Dengan ketaqwaan yang terus-menerus kita bangun dan lestarikan dalam diri, keluarga, lingkungan kerja, masyarakat dan bangsa, insya Allah akan mendatangkan keberkahan hidup yang senantiasa kita dambakan. Kita menyadari dan akui bahwa saat ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keberkahan adalah sesuatu yang dirasakan kian langka.

Jika ibadah shaum sebulan Ramadhan telah mampu kita hayati sebagai didikan ruhani dan jasmani bagi seorang muslim, maka dampak yang diharapkan adalah terbinanya konsistensi ibadah dan muamalah di luar bulan Ramadhan sebagai refleksi dari ketaqwaan yang sejati.

Menurut almarhum Dr. Ahmad Syarbasi, Guru Besar Universitas Al-Azhar Cairo dalam bukunya Akhlakul Quran, sifat-sifat insan muttaqin, yakni orang-orang yang taqwa meliputi sifat-sifat sebagai berikut:

Pertama, pemurah dalam segala kondisi hidup, baik pada waktu kaya maupun ketika miskin.
Kedua, menahan diri, bersikap sabar dan tenang menghadapi persoalan-persoalan hidup dan perjuangan.
Ketiga, pemaaf, tidak bersifat pendendam dan melakukan tindakan-tindakan pembalasan.
Keempat, konsisten berbuat kebajikan.
Kelima, senantiasa memohonkan ampunan Ilahi (istighfar).
Keenam, menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat, kemungkaran, sewenang-wenang, kezaliman dan sebagainya.

Sebagai bentuk konsisten ibadah dan muamalah, setelah beribadah shaum sebulan Ramadhan, kita semakin dituntut untuk meningkatkan keperpihakan pada kaum dhuafa. Keberpihakan dapat diwujudkan antara lain dalam bentuk kesadaran membayar zakat melalui amil zakat resmi di lingkungan masing-masing. Selain itu, semangat berjamaah, membangun ukhuwah, semangat memberi dan berbagi sangat penting untuk dijaga sebagai bagian dari konsistensi menjaga nilai-nilai ibadah Ramadhan.

Jika direnungkan lebih jauh, tradisi Halal Bihalal yang sudah sejak lama membudaya di negara kita usai umat Islam menjalani ibadah shaum (puasa) Ramadhan dan Idul Fitri merupakan media silaturrahim dan saling memaafkan yang bernilai positif. Secara etimologis, silaturrahim berarti menghubungkan kekerabatan dan persaudaraan atas dasar cinta dan kasih sayang, sekaligus menghilangkan segala kedengkian, kebencian, dan permusuhan di antara sesama. Karena itu, esensi silaturrahim di samping bertemu secara fisik sambil bersalam-salaman atau mungkin dengan berangkulan (mushafahah dan mu’anaqah), juga berusaha menebarkan kedamaian, ketenangan dan keselamatan pada sesama, atas dasar keikhlasan dan cinta yang keluar dari lubuk hati yang dalam. Spirit Ramadhan dan hikmah Idul Fitri mengajarkan konsistensi di dalam kebaikan.

Wallahu a’lam bisshawaab

Oleh Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin, M.Sc
Ketua Umum BAZNAS

Sumber : pusat.baznas.go.id

×

Assalamualaikum,

Tinggalkan pesan anda.

× Assalamualaikum