Menjaga Semangat Berbagi

DSC00841Salah seorang ulama besar di zaman kejayaan Islam, Imam Hasan al Bashri rahimahullah, ketika ditanya oleh murid-muridnya mengenai ciri-ciri orang yang ibadahnya diterima Allah SWT, menyatakan dengan sebuah kalimat sederhana: “an yakuunaa ahsanu min qoblu”. Artinya, perilakunya (pasca menjalankan ibadah) menjadi lebih baik ketika dibandingkan dengan sebelum melaksanakan ibadah tersebut. Karena itu, tanda apakah ibadah shaum yang kita lakukan selama sebulan penuh diterima oleh Allah atau tidak, sangat ditentukan oleh perilaku kita pasca Ramadhan.

Jika sebelumnya kita sering lalai dalam melaksanakan shalat sebelum Ramadhan, lalu pasca Ramadhan kita menjadi semakin rajin dan bersemangat melaksanakan shalat, maka artinya ibadah shalat dan shaum yang kita laksanakan di bulan suci tersebut insya Allah diterima oleh-Nya. Kita menjadi semakin dekat dengan Nya sehingga mampu menghadirkan Allah dalam seluruh aktivitas sehari-hari. Karena itu, jika perilaku pasca Ramadhan malah semakin jauh dari ketentuan Allah, kembali pada kemaksiatan dan korupsi, maka menurut Imam Hasan al Bashri, itu adalah tanda tidak diterimanya ibadah seseorang. Na’uudzubillah.

Salah satu ibadah yang perlu dijaga kualitas dan kuantitasnya pasca Ramadhan adalah ibadah zakat, infak dan shadaqah (ZIS). Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa salah satu ibadah yang sangat gencar dilakukan selama bulan Ramadhan adalah ZIS. Dimana-mana kita menyaksikan fenomena masyarakat yang berlomba-lomba untuk saling berbagi. Mulai dari pergiliran jadwal donasi ta’jil setiap hari, santunan anak yatim, penunaian zakat fitrah dan zakat maal, dan aktivitas berinfak serta bershadaqah lainnya. Bahkan kebiasaan berbagi ini pun turut dilakukan pada saat merayakan lebaran di kampung. Data yang ada menunjukkan bahwa jumlah dana yang dibawa oleh para pemudik mencapai angka Rp 96 trilyun.

Tentu saja semangat berbagi di bulan suci ini adalah sesuatu yang sangat baik dan luar biasa. Tinggal bagaimana caranya agar semangat berbagi ini tetap bisa dijaga hingga sebelas bulan berikutnya. Agar semangat berbagi ini bisa dapat terus terjaga, maka dibutuhkan konsistensi dan semangat untuk istiqomah. Untuk itu, ada tiga hal yang perlu kita perhatikan agar kita bisa konsisten dalam menjaga semangat beribadah, termasuk ibadah ZIS, pasca ibadah di bulan Ramadhan.

Pertama, menjaga komitmen niat dan orientasi hidup hanya karena Allah. Allah-lah tujuan kita dan hanya untuk-Nya-lah semua aktivitas hidup kita lakukan. Kekuatan niat akan sangat mempengaruhi kualitas amal dan perbuatan. Karena itu, persoalan niat ini sangat esensial dalam ajaran Islam. Memperbarui niat setiap saat merupakan salah satu cara agar kita bisa istiqomah dalam kebaikan.

Kedua, membangun lingkungan yang baik (bi’ah shalihah). Akan sangat berat bagi seseorang untuk dapat konsisten dalam beribadah apabila tidak didukung oleh lingkungan yang mendukung. Paling tidak, lingkungan keluarga sebagai institusi terkecil dalam masyarakat harus dididik untuk komitmen dalam menjaga ibadah ZIS ini. Semangat berbagi harus dijadikan sebagai gaya hidup keluarga.

Ketiga, hendaknya cara menunaikan ibadah ZIS ini disesuaikan dengan tuntunan agama dan contoh Rasulullah SAW. Untuk zakat, hendaknya disalurkan melalui institusi amil resmi seperti BAZNAS baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Sedangkan infak dan shadaqah di luar zakat, Islam memberi dua opsi, yaitu disalurkan melalui lembaga zakat resmi ataupun disalurkan sendiri secara langsung. Jika ingin disalurkan langsung, maka harus dengan cara yang baik, antara lain dengan mendatanginya secara langsung dan tidak melakukan tindakan yang merendahkan martabat penerimanya. Dengan cara ini, kita berharap agar kejadian meninggalnya para mustahik akibat mengantri untuk menerima sedekah dapat dihilangkan di masa yang akan datang. Wallahu ‘alam.

Oleh : Irfan Syauqi Beik
×

Assalamualaikum,

Tinggalkan pesan anda.

× Assalamualaikum